Halo.
Halo, blog, it's been a while. Aku kembali di umur 25 (one month closer to 26). Umur yang sudah cukup matang, kan, harusnya?. Membuka kembali blog ini membuatku banyak mengenang masa lalu. Terakhir aku menulis disini sepertinya saat umurku masih 20 tahun, atau 19? Entahlah, tapi tulisan didalamnya tampak seperti anak remaja galau. Tapi, aku pikir tulisan kali ini adalah versi dewasa seorang Tazkia setelah belasan tulisan galau miliknya yang ditulis di umur belasan, namun ternyata tidak. Aku kembali malam ini untuk menuliskan keresahan tentang my messy life--yang mestinya seorang dewasa sepertiku sudah tau how to figure out things.
Malam ini hujan, dan aku sendirian di kamar, pertama karena sudah lelah main ponsel dan berbaur dengan sosial media seharian, kedua aku tiba-tiba merenungkan hidupku malam ini, sampai kapan aku akan sendirian seperti ini? Aku membayangkan akan merawat ibu dan ayahku sampai mereka tua, mengambil kehormatan untuk memandikan bahkan menyuapi mereka di usia senjanya kelak. Aku juga membayangkan diriku--yang sudah sebesar ini--masih mengandalkan ayahku atau adik lelakiku untuk pergi keluar rumah untuk sekedar mensopiri atau bahkan hanya agar aku merasa aman karena ada lelaki disampingku. Di hari-hari dimana orangtuaku pergi, adik lelakiku sedang dengan urusannya, aku hanya bisa menahan diri dirumah hanya karena (pastinya) sulit untuk meminta izin ke oramgtua (dengan ribuan pertanyaan, pastinya) yang membuatku sudah tidak mood lagi untuk pergi, dan tentunya, aku terlalu takut untuk kabur. Sekali lagi, pertanyaan itu muncul lagi, mau sampai kapan sendirian seperti ini?
Ada saat dimana aku dihadapkan dengan pilihan, atau, diharuskan memutuskan sesuatu, which they expect it to be wise decision, tapi deep down in my heart, akupun takut salah mengambil keputusan atau menetukan pilihan. Ada masa-masa dimana aku dituntut untuk melakukan sesuatu yang terkadang, it beyond my capacity, tapi tetap aku harus melakukannya, dengan menyalahkan diri sendiri di malam hari jika sesuatu yang aku lakukan itu salah. Hidup semakin complicated di mataku. Malam ini aku menyadarinya setelah bertanya pada diriku sendiri, are you tired? yes. Ironically, aku bahkan tak punya siapapun untuk diajak berbicara tentang ini, not to my parents of course, because duh! it will burden them.
Aku muak dengan "kamu harus belajar tidak disukai orang" atau "tidak semua orang menyukai pilihanmu, biarkan saja" atau ini yang paling memuakkan "tak apa salah memutuskan sesuatu, at least kamu belajar". Well yea I need someone to rely on! at least i have someone that i can talk my problem to, someone who can help me making decision, someone who always in my back and cheer me up, someone who can help me emotionally, sexually, physically, someone who mature enough to help me handle my worries, looking for solution, someone who can hug me and says that it was all okay, someone who always be there for me. For the first time in my life, god, i hate being single.
Aku akan menjalani hariku dengan penuh syukur, merawat orangtuaku dengan sepenuh hati, mengisi hariku dengan berbagi ilmu sebagai guru, menjadi anak yang baik, guru yang baik, saudara yang baik, tapi aku juga ingin menjadi istri yang baik, ibu yang baik. Is that too much to ask, god? Aku berharap aku tidak merengek, tapi yea, sebagai manusia pada umumnya, aku akhirnya harus merengek. Rasanya lelah melakukan banyak peran sendirian, entah ini hanya ada dalam pikiranku saja atau memang kenyataannya seperti itu, tapi aku merasa dengan memiliki suami means i have my own team. Bersama-sama merawat orangtua kami, bersama-sama mengisi hari, bersama-sama dalam lelah dan bosan, bersama-sama memikirkan keputusan dan mencari solusi, sepertinya itu terdengar lebih baik daripada sendirian, bukan? Bersama-sama.
marriage isn't easy, i know, as well as i know i want good mature smart pretty guy in my life. Mereka bilang, yang baik tidak datang dengan terburu-buru, but god, i'm 26 next month! I spend my whole youth life to study, went to collage, making degrees, improve myself, all those things i've done was a proof how not rush i am in "love", i'm trying to be very careful in choosing partner, cause i'm afraid for making wrong decision, again, in the relationship. Waktu yang lama dalam kehati-hatianku selama ini, bisakah jadi jalan untukku bertemu pria yang tepat itu, tuhan...
I need him (which i don't know who) now...please god.
Komentar
Posting Komentar