Dewasa dan semua hal di dalamnya..

Hari ini setelah sekian lama, aku kembali menyapa sahabat lamaku selama di Maroko dulu lewat seutai kata di Whatsup. Sebuah pesan apa kabar yang dibalasnya dengan "ada yang mau ajak aku Taáruf, bagaimana menurutmu?"membuat percakapan kami bak kereta yang panjang dan seakan tak berujung. Lama tak bertemu, ternyata kami masih jadi orang yang sama, meski beberapa pemikiran usang sudah kami tanggalkan seiring dengan dunia yang merubah kami. Dia selalu tahu aku takut dengan pernikahan, lebih jauh, aku bahkan tak pernah ramah dengan laki-laki manapun. Dia mengenalku dengan baik. Pun sebaliknya, aku selalu tahu bahwa temanku selalu suka mimpinya menjadi Ibu di kemudian hari, suatu hari, saat kami sudah berdamai dengan diri kami sendiri. 

Dari dulu, percakapan kami tak pernah jauh dari membicarakan kebisingan hidup. Obrolan yang hanya berkutat pada persoalan seputar sekolah, kuliah, Maroko dan kehidupan disana, kini kurasa sudah berubah. Aku masih tidak pernah membayangkan hari ini akan terjadi. Dimana dewasa begitu cepat membawa kami ke fase kehidupan ini; saat kami mulai membicarakan tentang pernikahan. Pernikahannya belum akan terjadi, namun pembicaraan ini sudah kami alami saat ini. Kami tiba-tiba tersadar bahwa memang hari ini sudah saatnya kami harus menanggalkan keasyikkan "kesendirian" kami. Pernikahan yang aku takutkan harus di obati. Mimpinya tentang menjadi Ibu harus terwujudkan di umurnya--dan aku-- yang sudah menginjak 2 digit.  

Aku tak percaya, atau bahkan diriku 6 tahun yang lalu tak akan pernah percaya bahwa hari ini, perkataan "ingin menikah" terucap dari bibirku. Kesambet apa? bagaimana bisa gadis keras kepala dan benci dengan komitmen ini tiba-tiba ingin mencoba mengarungi bahtera rumah tangga. Kemana perginya gadis judes 6 tahun lalu yang bilang tak akan mau percaya dengan laki-laki karena merasa aku sudah cukup mempercayai diriku sendiri. Kemana kiranya gadis "mandiri" itu pergi?, kemana kiranya gadis yang "aku mampu melakukan apapun sendiri" itu pergi?. Kukira, Ia terbawa dewasa. Gadis itu pergi menemui kehidupan yang kian membentuknya menjadi hari ini. Khayalannya untuk hidup sendiri, atau sekalipun harus berkomitmen harus bersama seseorang seperti pangeran dalam kisah Cinderella, sepertinya pupus termakan dewasa. 

Hari ini, doánya tentang "kuatkan menjadi perempuan yang mandiri" berubah dengan memohon diberikan teman hidup yang akan menemaninya mengarungi kehidupan yang melelahkan ini. Dewasa memberi tahunya tentang betapa melelahkannya berada di medan perang sendirian, gadis itu harus menemui teman berperangnya, yang akan membantunya melawan musuh, yang akan memberitahunya hal-hal baik dalam dirinya agar Ia percaya diri memenangkan perang itu. Kehidupan yang menyeramkan ini, harus dilalui bersama kekasih yang tepat. 

Khayalannya tentang laki-laki kaya, tampan dan bak pangeran di hapuskan dewasa. Dewasa bilang bahwa pada akhirnya, hanya laki-laki yang punya nilai di matamu lah yang akan menang. Yang saat kamu lihat dia, hatimu berbisik "sepertinya memang dia, tidak ada yang lain". Dewasa merubah pola pikir keinginan menjadi kebutuhan; bukan apa yang diinginkan, tapi apa yang dibutuhkan. Dan kita tidak akan pernah tau apa yang kita butuhkan kecuali sang penciptalah yang maha tahu. 

Dewasa merubahku sejauh ini. Dan aku masih akan terus berubah seiring waktu. Semoga, dewasa terus membisikkanku hal-hal baik. Merubahku menjadi lebih baik dan bijaksana.

 

 



Komentar

Postingan Populer