Educated By Tara Westover

 should i write about Tara Westover's story here? or did Tara's story on her 'Educated' book is actually represent my own story too? though mine has a better version fortunately. 

Recently Aku baru aja ngekhataminbuku 'Educated' by Tara Westover yang sudah di cetak ulang berkali-kali, dan Aku baru membacanya hari ini. mengapa orang lebih suka membaca buku?pikirku saat orang-orang bilang bahwa buku milik Tara adalah buku bertemakan Edukasi. kamu bisa mendapatkan banyak pandangan baru tentang how important education is. Begitu kata mereka saat Aku meminta penjelasan—atau sebagai usaha untuk meyakinkan diriku sendiri. 

Aku lebih suka duduk bermenit-menit atau barangkali berjam-jam__yang mungkin tidak kusadari sudah duduk selama itu__untuk mendengarkan podcast dari Maudy Ayunda, Najeela shihab misalnya atau beberapa tokoh masyarakat lainnya yang concern pada bidang pendidikan. Sejak kecil, aku memang lebih senang mendapatkan pengetahuan dari media dengar, bukan baca.  

Hingga suatu sore, saat aku tak sengaja berkunjung ke Gramedia untuk mencari beberapa buku import, aku menemukannya masih terpajang di rak Top best seller. Tanganku tak sabar ingin membawanya pulang, meski akalku terus mengatakan jangan lagi membaca buku dengan Bahasa Indonesia saat kau mau mengembangkan Bahasa inggris-mu. Tapi sekali lagi,  saat hati sudah bertindak, akal bisa apa? 

Aku membawanya pulang, harap-harap cemas ingin membacanya. Takut tak sesuai ekspektasi, mempertimbangkan harganya yang juga lumayan menguras dompet akhir bulan. Kubaca satu-persatu, kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan aku tidak mengerti. Benar saja, aku pasti akan menyesal. Bab satu terlalui, lalu dua, dan tiga. Dan aku baru mengerti, Tara adalah seorang anak dari Ayah yang tak percaya pada pendidikan dan pemerintahan. Ia terisolasi dari dunia luar, dan hidup dengan gunung dan tumpukan besi di Idaho. Heran, biasanya aku berhenti membaca saat Bab 1 sudah tak masuk ke otak, tapi untuk ini, aku penasaran. 

Ayahnya tidak percaya pada pemerintah, mengklaim dirinya sebagai penganut Mormonisme yang menganggap bahwa sekolah formal dan apapun bentuk bantuan pemerintah adalah menyekutukan tuhan. Sekolah dan pemerintah adalah budak setan yang membisikkan kepada ajaran-ajaran sesat. 

Tara hidup dalam ‘kebenaran-kebenaran’ hasil doktrin ayahnya. Lahir tanpa Akta kelahiran, tak pernah menyentuh sekolah, atau bahkan buku-buku pengetahuan. Tak ada ruang bahkan untuk mempertanyakan hidupnya, atau sekedar merenung apa yang sebenarnya ingin Ia lakukan. 

Tara hidup dalam ‘dunia’ ayahnya. Atau memang, sejak kecil Ia tak pernah benar-benar ‘hidup’. Hati dan pemikirannya milik ayahnya. Hidupnya juga mesti mengikuti aturan ayahnya. Saat sakit, atau saat kakinya robek hingga memperlihatkan tulang Ketika tengah bekerja di bengkel besi ayahnya, Ia tak pernah dilarikan kerumah sakit. Ayahnya—dengan segala keyakinannya—menganggap bahwa daun dan bunga adalah obat yang disediakan tuhan untuk manusia,  dan dengan memakainya, baru bisa disebut penganut yang taat. 

Ada jurang besar antara laki-laki dan perempuan. Ada Batasan-batasan yang mestinya tak disentuh oleh seorang perempuan, salah satunya adalah melawan. Tara kecil pernah mendapatkan perlakuan buruk dari salah satu kaka laki-lakinya, ShawnIa pernah dipukul, di permalukan di depan teman-teman gerejanya, dan diancam jika berani melawannya. Tara mengikuti rumus, seperti yang seharusnya seorang perempuan lakukan; bungkam, dan jangan melawan

Hingga suatu hari, salah satu kakak laki-lakinya yang lain memberanikan diri keluar rumah untuk mengikuti sekolah formal. Tyler. Ia bersedia menerima ancaman dari ayahnya untuk jangan lagi berani menginjakkan kaki dirumah kalau Ia berani ke sekolah sesat milik budak-budak setan. Tyler tetap keluar, dan tak pernah Kembali.

“Selama kau tinggal di bawah atap ayah, kau akan kesulitan…”  

Di luar sana ada sebuah dunia, Tara” katanya. “Dan dunia itu akan sangat berbeda setelah ayah tidak lagi membisikkan pandangan tentang dunianya di telingamu”. 

Tara berusia tujuh belas tahun saat pertama kali menginjakkan kaki di kelas. Tara, dengan semua rasa ragu, takut, dan cemasnya memberanikan diri untuk mengikuti tes dan memasuki dunia kuliah. Saat membaca bagian ini, aku bisa merasakan seorang Tara yang mencoba melepaskan belenggu keterbatasan yang diciptakan ayahnya dan mulai membaca buku-buku pengetahuan. Perjuangannya untuk mendapatkan kursi kuliah terasa sangat relatable dengan kondisiku saat itu. Bagaimana gagal dan gagal lagi tak terasa menyakitkan saat asa dipegang erat-erat. 

Setelah banyak percobaan test, pada suatu pagi, selembar kertas tergantung di kotak pos depan rumahnya. Matanya terbelalak saat membuka surat tersebut. Kata demi kata, kalimat demi kalimat. Tidak ada yang lebih membahagiakan saat sebuah kalimat yang bertuliskan “kepada Tara Westover, selamat kau diterima di Brigham Young University…” benar-benar sampai kepadanya. Saat membaca bagian ini, aku ikut terenyuh dan berdebar. Membayangkan betapa bahagianya mendapatkan perahu yang bisa membantumu menyebrangi lautan setelah kau lelah berenang. Lautan terlalu luas untuk kau tempati dibawah cangkang kura-kura, bukan? Kau mesti keluar. Melihat daratan yang belum pernah kau jumpai sebelumnya. 

Disinilah bagian paling menyenangkan buatku. Hari-hari yang Tara habiskan di bangku kuliah. Membacanya membuatku lagi-lagi ikut berdebar dan terhanyut dalam kisahnya. Tentang bagaimana Tara melihat pandangan-pandangan keilmuan dari dosen dan teman-temannya. Yang tentu saja, berbeda dari yang Ia dengar dari cerita dan teori milik ayahnya. Disinilah, Tara mulai memberanikan diri mempertanyakan hidupnya. 

“Seorang perempuan telah tumbuh dewasa, dengan pikirannya sendiri, dengan doa-doanya sendiri, yang tidak lagi duduk, seperti anak kecil, di kaki ayahnya”. 

Seiring bertumbuh dan belajar, Ia menyadari bahwa dirinya dan ayahnya memiliki dua pendapat yang berbeda. Ketika Ia mulai mengabaikan nasihat ayahnya dan mempertanyakan pendapatnya sendiri. Ia mulai mencoba untuk melihat situasi keluarganya dari sudut pandang yang berbeda. “aku tidak mengerti, mengapa sebagai seorang anak, aku tidak diizinkan mendapatkan pendidikan yang layak. ».

Pencariannya akan pengetahuan mengubahnya, membawanya melintasi lautan dan benua, ke Harvard dan Universitas Cambridge. Membawanya dari Idaho---sebuah desa terpencil di Amerika---ke London, Inggris. 

Hingga suatu hari, ayahnya yang tak pernah meninggalkan Idaho, dan menganggap bahwa pesawat hanya akan membawanya kepada kesekutuan tuhan, membawanya menyebrangi lautan untuk menjemput Tara. “kau harus pulang, setan sudah membawamu terlalu jauh. Kau akan membuat murka tuhan”. 

Di bagian ini, aku ikut merasakan kekhawatiran Tara dan mulai mempertanyakan Kembali keputusannya. Apakah ayahnya benar? Atau salah?. Selalu ada perasaan tidak aman untuk orang yang baru pertama kali membuat keputusan. Aku suka cara Tara bertanya pada dirinya sendiri dan mulai menjawabnya satu persatu. Cara Tara yang akhirnya mempertahankan pendiriannya. 

« semua yang telah kulakukan, selama bertahun-tahun aku belajar, telah berhasil membeli satu hak istimewa ini, untuk diriku; untuk melihat dan mengalami lebih banyak kebenaran daripada yang diberikan ayahku, dan menggunakan kebenaran itu untuk membangun pikiranku sendiri. Aku percaya bahwa kemampuan untuk mengevaluasi banyak gagasan, banyak sejarah, banyak sudut pandang, adalah inti dari apa artinya menciptakan-diri-sendiri. Jika aku menyerah sekarang, aku akan kehilangan lebih dari sekedar argumen. Aku akan kehilangan hak asuh atas pikiranku sendiri. » Hal. 456. 

Saat ayahnya mengajaknya kembali dengan ketakutan-ketakutan yang diberikan, Tara dengan berani mengatakan bahwa Ia tidak bisa lagi hidup sebagai gadis kecil Idaho seperti dulu. Di bagian ini, Tara menyebutkan bahwa saat pikiranmu telah diluaskan dan dihidupkan, kau akan mulai mencintai dengan cara yang berbeda. Ia mencintai ayahnya, Ia mencintai Idaho, hanya dengan cara yang berbeda. Bukan dengan menetap, tapi untuk Kembali lagi menjadi orang yang membangun. 

Pendidikan dapat meluaskan pemikiranmu, melebarkan sayapmu, meski dengan itu, banyak orang menutup mata. Mereka bilang kami terlalu mengejar ambisi yang tak nyata. Padahal, kami mengejar segala ketertinggalan ilmu dan pengetahuan. Mereka bilang kami berubah, tak lagi sama dengan ajaran orangtua. Padahal, kami sudah cukup hidup dan bernaung dalam teori yang mereka benarkan sendiri—dan hari ini, memutuskan untuk meninggalkan ajaran kuno dan pemikiran lama. 

Kisah Tara, dan semua keputusan yang Ia ambil, mengingatkanku tentang kutipan Kartini;

“perempuan yang pikirannya telah dicerdaskan, pemandangannya telah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya”. 

Kau bisa menyebut kami keras kepala (read: berpendirian) atau banyak bicara (read: sadar bahwa kami memiliki hak suara). Atau kau bisa menyebut pembentukan kepribadian ini dengan Transformasi, Metamorfosis, Kepalsuan, Pengkhianatan. 

Tapi kami menyebutnya; Pendidikan. 


Kini Aku mengerti mengapa orang lebih suka membaca buku. didalamnya ada suara-suara yang Selama ini Sudah mengikutiku, dan di keluarkan dengan kata-kata yang disetujui pemikiranku. kami menemukan teman di dalam buku, dan mulai hidup berdampingan dengan Kisah-kisah mereka yang juga asupan peluasan wawasanku. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer