Bunga
Ada yang kamu tak faham tentang wanita. Ia bisa melakukan apapun dengan kedua tangannya, pikirannya, waktunya, dan tenaganya yang mereka bilang tak sebanding dengan laki-laki.
Ada yang kamu tak tahu tentang wanita. Ia bisa bertahan mencari takdirnya hanya dengan satu harapan ditangannya, dihatinya, dan disetiap doa dalam sujudnya.
Ada yang perlu kamu ketahui tentang wanita. Ia bisa menggandeng dirinya sendirinya, keluarganya, dan orang-orang yang disayanginya meski hanya memiliki satu tangan dan satu kaki. Didalam gelapnya asa, redupnya langit, seberapa sakit kakinya menginjak duri, Ia bertahan meski hanya bisa mengeluh dengan tuhannya.
Tahukah, terkadang Ia tak butuh banyak telinga untuk didengarkan isaknya, tak perlu banyak mulut untuk membicarakan lelahnya, tak mesti banyak punggung menaungi gelisahnya--meski bisa berdiri sekuat itu, pengakuan tentang kehebatannya masih diperdebatkan banyak pinggang.
Namanya Bunga, sepertinya namanya, Ia harum dalam ingatanku. Sepanjang aku mengenalnya, pepatah yang mengatakan perempuan tak bisa hidup dengan tulang rusuknya sendiri nyatanya tak kutemui dalam dirinya. Ia mampu menangis menanggung segala beban dan derita hidupnya sendiri, dipojok lemari, setengah mati menahan dada agar tak terdengar isaknya tanpa pernah mengeluh meminta belas kasih orang lain.
Seluruh tenaga, pikiran, dan waktu Ia dedikasikan untuk keluarganya, menjadi tulang punggung yang mestinya dipikul laki-laki---jika saja benar kata mereka, bahwa perempuan tak mampu menjadi penyambung asa.
Persetan dengan kuku yang mesti dirawat, atau tubuh yang mesti harum seperti seorang "Perempuan" dalam ingatan laki-laki.
Dengan tangan yang katanya tak mulus itu, Ia hidupi banyak kepala. Dengan tubuh yang katanya lemah itu, Ia pikul banyak tanggungjawab. Dengan kepala yang Ia merasa bodoh atasnya, Ia pikirkan banyak cara untuk menyambung hidup. Bak pohon kelapa, dirimu bermanfaat dari ujung rambut ke ujung kaki. Dirimu perempuan, dan kamu mampu.
Terimakasih telah memberiku banyak pelajaran dan energi. Berkatmu, kini aku mengerti bahwa hidup bukan lagi tentang meminta dan merengek kepada manusia. Tak benar adanya hidup perempuan mesti bergantung pada manusia yang dianggap paling kuat. Dirimu, aku, dan seluruh perempuan yang kukenal nyatanya sehebat yang mereka tidak pernah bicarakan. Karena dalam matanya, kaum kami disetarakan dengan harta yang bisa dibeli.
Bunga,
Semoga lelaki terbaik yang akan mendampingimu, menghormatimu, dan menghargai seluruh kerja kerasmu.
Mari terus berdiri, mengahadapi dunia yang sudah tidak manusiawi. Tapi kau punya hati paling murni seperti yang mataku selalu jumpai, dan doamu hidup dalam rangkulan tuhan hingga fajar berganti.
Komentar
Posting Komentar