Resah.
Malam hari, entah apa yang merasukiku hingga jari tanganku tergerak kembali untuk menulis blog yang Sudah lama Aku biarkan berdebu. Mungkin karena seharian ini Aku bingung ingin berbuat apa, kemana, dan bersandar di punggung mana. Bukan Karena Aku benar-benar tak Punya kerjaan untuk dilakukan, ada, bahkan banyak, tapi tak mau kusentuh.
Hatiku sedang sakit, jiwaku sedang haus oleh hari-hari penuh peluh, pikiranku tak henti-hentinya menyalahi diriku sendiri. Katanya bodoh, katanya tak mampu, katanya aku pengecut.
Sekujur tubuhku lelah, mulutku sudah tak tahan ingin cerita, tapi mataku cukup kuat tak menumpahkan air mata. Tapi sampai kapan? aku sudah ingin menangis seharian suntuk, sudah ingin teriak sekeras pukulan itu pada pundakku. Tapi kemana?
Pertanyaan itu, mengapa sampai kini tak kunjung rampung terjawab tuhan?.
Ini, sedikit Surat kecil untukMu..
Tuhan, Malam ini, Malam kemarin, entah Malam yang akan datang, Aku kesepian. Aku tiba-tiba membutuhkan seseorang untuk kuajak bercerita. Butuh bahu untuk kutumpahkan seluruh sesak hati. Butuh tangan untuk menghapus air mata, sebagai cara terakhir mengakhiri masa berpura-pura kuatku.
Tuhan, Malam itu, ubinku dingin, tapi terasa hangat saat kucurahkan semua beban hidup padamu. Kadangkali aku merasa lancang menyebutnya beban, saat seharusnya seluruh was-was dan kesusahan yang kupunya barangkali mesti disyukuri karena bisa jadi itu bentuk cintaMu padaku.
Ah, tuhan. Kadangkali kumerasa sedikit sulit menerima ungkapan cintaMu yang seperti itu. Tapi fakta aku masih berdiri disini juga barangkali bentuk cintaMu yang lain untukku.
Tuhan,
Saat lampu kamar kumatikan, Kau tahu, yang tersisa hanya bisikan makian dari kepala, menjulur hingga ujung kaki, tubuhku meriang sekali lagi.
Kau Tahu, Aku meringis sepanjang hari, bertanya kapan kiranya kakiku benar-benar kuat, tanganku mampu merangkul pilu yang kugendong pagi dan malam, atau paling tidak, seseorang yang akan menemani jalan lunglaiku. Seseorang yang akan mengatakan " Jangan takut, semua akan baik-baik saja." saat aku mulai mengeluhkan dunia yang kian membusuk dalam ragaku.
Tuhan, kuharap semuanya benar-benar akan baik-baik saja. Saat kutahu seluruh hidupku ada padaMu.
kuharap, sepiku kini, hanya sebatas terbawa sedih karena takut berjalan sendiri, lagi. Meski saat ini, Aku tak tahu ingin pulang kemana...
Komentar
Posting Komentar