Dahaga tanya, haus jawaban

" dahaga tanya, haus jawaban".

malam ini lagi-lagi aku tak bisa memejamkan mata, tak perduli berapa kali otak memberi sinyal lelah pada tubuh, atau lingkaran hitam yang terus menunjukkan keberadaannya agar aku mengikuti sinyal tidurnya. 

tahun ini aku 21, umur yang seharusnya bukan lagi tentang menyeh-menyeh, atau memperdebatkan apakah ini salah, apakah ini pantas, atau pertanyaan-pertanyaan yang mestinya sudah rampung dijawab kehidupan. Sudah sebanyak apa ilmu yang kamu dapatkan? sudah berapa banyak buku kamu khatamkan? sudah seberapa berani kamu membatasi dirimu dari hal-hal yang tidak pantas kamu lakukan? dan lain-lain yang membuat kepala tak berhenti berfikir. Pertanyaan-pertanyaanku sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang anak yang akan mempertanggungjawabkan hasil belajarnya, tentang kemana kamu habiskan uang jajan yang ayah ibumu kirimkan setiap bulannya, hidup jauh disana, sudah seberapa berkembangnya dirimu dalam mengatur hidupmu sendiri? sepertinya hidupku masih berkutat pada satu garis lurus, dewasa yang aku tuhankan nyatanya masih abu-abu. Aku malu pada angka yang terus bertambah pada usiaku. aku malu pada dunia yang menjadi saksi pertumbuhanku, aku malu pada tuhan yang sampai saat ini masih memberiku nafas, aku malu pada Maroko, nyatanya hidup sendiri di perantauan tak banyak membuatku berubah menjadi aku yang baru, aku yang lebih baik. 

Siapa lelaki yang akan menerimanya? gadis bodoh ini, bahkan tak ada apapun yang tersisa dari dirinya untuk dicintai. Berkoar kesana kemari ingin disandingkan dengan yang layak, bahkan kelayakan bukan miliknya, bukan milih egonya, bukan milik tempatnya berpijak, entah milik doanya atau tidak, entah tuhan berkenan memberi atau tidak, teruskan saja hidup dalam derai pertanyaan, bahkan jawaban belum mau menghampiri. 



Komentar

Postingan Populer