MALAIKAT

Malam ini akan aku ceritakan tentang sesosok malaikat paling sempurna di muka bumi.  Senyumnya menghangatkan kalbu, air matanya menjadi penguat, amarahnya menjadi pupuk. Dia ibu.

Aku tulis ini dengan hati yang masih berdegup kencang dengan semangat baru, dan mata sembab diiringi senyum mengembang bahagia.
Beberapa saat yang lalu, aku sempat mengirim pesan singkat berupa kerinduan dan perasaan yang tiba tiba terasa menyesakkan dada padanya. Entah, tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Aku bilang kalau aku ingin dinasehati, aku rindu suaranya.
Tapi jam jakarta baru menunjukkan jam 5 pagi. Aku urungkan niat untuk menelpon beliau, kupikir takut mengganggu. Akhirnya, karna perasaan yang entah mengapa aneh itu aku tiba-tiba  menangis. Saat itu aku benar-benar rindu umiku. Jika saja jarak maroko jakarta sedekat jakarta bandung, aku akan benar-benar nekat pulang tak perduli waktu sudah menunjukkan jam 12 malam. Tapi ini maroko, jaraknya ribuan mil dari jakarta. Rinduku hanya dapat disampaikan doa, bukan bertatap muka atau dekapan darinya.
Tak selang lama umi akhirnya menghubungiku via video. Lalu buru-buru kuangkat dan langsung menghujaninya dengan kata-kata rindu. Aku ceritakan padanya tentang betapa sulitnya tinggal di tempat yang jauh dari dekapannya. Dalam wajah tegarnya, umi hanya memberi nasihat bahwa belajar dinegri orang memang begitu, hal-hal seperti homesick harus sudah bisa dijadikan makanan sehari-hari, sabar saja.
 Lalu tiba-tiba hatiku tenang, tak lagi resah seperti tadi.
Oh umi, aku lihat wajahmu sudah mulai menua. Wajah lelahmu sudah tak bisa kau tutupi walau dengan senyuman, rindumu juga sudah tak bisa kau sembunyikan lewat kata-kata santaimu ketika menyuruhku sabar.

Dalam lirih, aku tatap wajah umi dalam-dalam..

Oh umi, tubuhmu sudah semakin melemah dimakan rindu dan perasaan tak sabar menunggu waktu mengizinkan perjumpaan dengan anakmu.
Oh umi, senyummu sudah semakin menciut dibohongi rindu.

Dan umi, akupun begitu.

Lalu kau tau apa yang terjadi..?
Umiku menangis.
Runtuh sudah benteng pertahanan dirinya yang selama ini ia bangun kokoh setiap melihat wajah anaknya hanya dari layar hp.
Umi bilang, "Kalau kamu selalu bilang rindu umi, kamu harus tau kalau umi lebih rindu. Umi berdoa setiap malam untuk kamu, semoga anak umi selalu bahagia walau berada jauh dari dekapan umi. Semoga orang-orang terbaik yang dia temui disana" . Dan umiku makin terisak.
Kutatap wajah umi yang sembab oleh air mata kerinduan. Ya allah, umiku wanita paling kuat di dunia.
Wajah keriputnya menjadi saksi perjuangannya menghadapi dunia.
" Umi yakin banget anak umi orang yang kuat, kamu bisa kamu pasti bisa..."
" Kamu banyak berdoa sama allah ya nak, karna lewat doa kita dipertemukan.."
Hatiku pilu, air mataku sudah tak dapat lagi kubendung.
"Ya allah..anak umi cantik banget..udah makin dewasa sekarang..makin kuat ya neng, makin sabar...bisa bisa bisa.."

Umi, oh umi..
Tahukah kau?  Bahkan saat dunia dan seisinya memandang rendah anakmu, kau justru mengagung-agungkan..
Bahkan saat aku mulai putus asa.., kau tak pernah lelah menyambungnya kembali..
Bahkan saat aku mulai kehilangan arah.., kau dengan sigap sediakan cahaya untuk menuntunku kembali...

Umi, oh umi..
Manusiakah kau? karna hatimu bak malaikat.

Sungguh, demi dunia dan seisinya..
Aku kini bahagia karna telah memilikimu sebagai dunia dan akhiratku..

Terimakasih karna telah ikhlas menjaga, melindungi, memberi dekapan kehangatan untuk anak gadismu yang kian dewasa ini..


Umi, aku masih akan terus rindu sampai hari perjumpaan kita...
Semoga allah menjaga dirimu selalu..

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer