Dewasa
Ternyata menjadi dewasa bukan suatu hal yang mudah. Harus ada berpuluh puluh pengorbanan;
Dari mulai berkorban keikhlasan,berkorban hati dan perasaan,menyampingkan ego,membelakangkan amarah dan berjuta juta pertahanan diri lainnya.
Tak mudah memang,tapi yaa mau bagaimana. Jika dirimu belum mampu seperti itu maka kau belum bisa disebut orang dewasa.
Terkadang,gue berfikir "menjadi dewasa apa harus seperti malaikat?".
Ada banyak cara orang memperlakukan amarah dan ego nya sendiri sendiri.
Gue gak tau pasti bagaimana manusia manusia lain bereaksi saat mereka dipenuhi amarah. Tapi kalau gue, gue memilih untuk menghindar dan menjauh atau bahkan menyendiri. Menurut gue itu adalah cara paling ampuh yang bisa gue lakukan supaya gak buang buang energi gue untuk marah marah nantinya.
Selain karena gue gak mau bikin banyak sakit hati orang karena perkataan gak enak yang gue keluarkan saat gue marah,gue juga sekalian belajar introfeksi diri.
Gue belajar sadar bahwa gue hidup dengan manusia. Yang mereka sama sama punya hati, punya perasaan,punya sifat yang nyebelin,punya otak beda beda,punya pikiran beda beda,punya marah,punya ego,punya alasan kenapa bersikap begitu,punya privasi,punya prinsip,dan berjuta juta punya lainnya.
Iya,mereka manusia dan bukan malaikat.
Tapi sekarang-ketika gue sedang mengetik ini-gue berfikir bahwa dewasa nggak bisa ditinjau hanya dari segi umur,tapi pikiran dan perasaan.
Tau mengapa gue bilang jadi dewasa itu susah?
Karena gak semua orang bisa mengalah.
Dan karena banyak orang yang gak mau mengalah,maka banyak juga orang yang sok ber'prinsip' bermunculan,lalu dibuntuti oleh orang orang sok dewasa.
Dan akhirnyaaa dunia ini dipenuhi oleh orang orang menyebalkan.
Dan gue....akhirnya memilih pergi dan menyendiri (lagi).
Dari mulai berkorban keikhlasan,berkorban hati dan perasaan,menyampingkan ego,membelakangkan amarah dan berjuta juta pertahanan diri lainnya.
Tak mudah memang,tapi yaa mau bagaimana. Jika dirimu belum mampu seperti itu maka kau belum bisa disebut orang dewasa.
Terkadang,gue berfikir "menjadi dewasa apa harus seperti malaikat?".
Ada banyak cara orang memperlakukan amarah dan ego nya sendiri sendiri.
Gue gak tau pasti bagaimana manusia manusia lain bereaksi saat mereka dipenuhi amarah. Tapi kalau gue, gue memilih untuk menghindar dan menjauh atau bahkan menyendiri. Menurut gue itu adalah cara paling ampuh yang bisa gue lakukan supaya gak buang buang energi gue untuk marah marah nantinya.
Selain karena gue gak mau bikin banyak sakit hati orang karena perkataan gak enak yang gue keluarkan saat gue marah,gue juga sekalian belajar introfeksi diri.
Gue belajar sadar bahwa gue hidup dengan manusia. Yang mereka sama sama punya hati, punya perasaan,punya sifat yang nyebelin,punya otak beda beda,punya pikiran beda beda,punya marah,punya ego,punya alasan kenapa bersikap begitu,punya privasi,punya prinsip,dan berjuta juta punya lainnya.
Iya,mereka manusia dan bukan malaikat.
Gue kadang merasa kalau gue belum siap untuk jadi gue yang sekarang. Gue yang ternyata udah 18 th dan terus menerus dituntut untuk mulai berfikir dewasa.
Seorang gue yang kadang suka kesel gak jelas,suka ngambek tanpa sebab,dan suka berfikir kurang luwes ini kadang suka belum bisa mengerti apa arti dewasa yang sesungguhnya.Tapi sekarang-ketika gue sedang mengetik ini-gue berfikir bahwa dewasa nggak bisa ditinjau hanya dari segi umur,tapi pikiran dan perasaan.
Tau mengapa gue bilang jadi dewasa itu susah?
Karena gak semua orang bisa mengalah.
Dan karena banyak orang yang gak mau mengalah,maka banyak juga orang yang sok ber'prinsip' bermunculan,lalu dibuntuti oleh orang orang sok dewasa.
Dan akhirnyaaa dunia ini dipenuhi oleh orang orang menyebalkan.
Dan gue....akhirnya memilih pergi dan menyendiri (lagi).
Komentar
Posting Komentar